Goodbye?

Goodbye?

Kamis, 23 Juni 2011

cerpen tugas Bahasa Indonesia

Posted by sigma pomallia at 21.42

Seminggu sebelum…
by: S
Suara jam berdentang menunjukkan pukul 00.00 WIB, hari ini tiga tahun kami jadian. Aku berusaha mengingat kembali yang sering Ryan lakukan untuk merayakan anniversary kami. sedih..saat aku harus melihat selembar foto kami saat merayakan anniversary kami yang ke-2. Tak terasa sesekali aku tersenyum meski air mataku terus terjatuh dan membuat mataku sembab. Teringat yang selalu Ryan katakana ketika aku menangis “Kalau kamunya nangis, siapa dong yang bikin akunya senyum?”  semakin deran airmataku ketika menatap potret diri Ryan yang masih terpampang di dinding kamarku.
Tiba-tiba ponselku bergetar, ada panggilan masuk, segera ku lihat layar Hp-ku. Ternyata Dean yang menghubungiku. Aku menceritakan semua yang sedang aku rasakan saat ini kepada dean, jelas saja karena dia itu sahabatku.  Sejam berlalu, kamipun menghentikan obrolan yang cukup membuatku tenang walaupun hanya sedikit. Seminggu berlalu setelah kejadian itu.
LLL
“Kriiiiiiiiing…” suara alarmku berbunyi jam 06:00, bergegas aku menuju kaman mandi. Setelah selasai mandi ponselku bergetar, ku lihat layar ponselku dan ternyata panggilan dari Ryan. Secepat kilat aku menjawabnya “heh gembel bangun..” “cepetan mandi, aku jemput, tunggu yaaa! Sebentar lagi aku jalan” Ryan dengan nada khasnya “iyaaaa, aku tungguin. udah mandi, enak aja” aku jawab sekaligus menutup teleponnya. Aku bergegas mengenakan seragam dan memasukan bukuku yang masih tergeletak dimeja belajar.
Tak lama menunggu, Ryan datang dengan membunyikan klakson motor V-xion biru-hitamnya yang sudah terparkir didepan Rumahku. “Bun, aku berangkat dulu ya” sambil mencium pipi bunda yang sedang menyirami tanaman kesayangannya itu. “Iya sayang” “Yan, hati-hati ya bawa motornya! Awas jangan kenceng-kenceng!” selalu kalimat itu yang bunda katakana kepada Ryan saat ia menjemputku. “Beres tante!” Ryan mengatakannya sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya seperti biasanya. Kamipun dengan segera berangkat ke sekolah dengan senyum yang masih terlukis di wajah kami masing-masing.
JJJ
Tidak lama kami tiba diparkiran sekolah yang sudah agak ramai di penuhi para siswa itu. Ryan parkir  disamping pos satpam agar tidak terlalu sulit mengeluarkannya saat pulang nanti. Aku langsung menarik Ryan untuk menemaniku makan di kantin.
sherly!!! Tungguin!” teriak dean dari ujung pintu gerbang sambil melambaikan tangannya. 
Sher! Yan! kalian mesti dengerin cerita gue pagi ini!” sambil berjalan ke arah kantin
“cerita konyol apa lagi de? Capek gue de dengerinnya, cerita lo ga pernah bener” kata Ryan sambil meledeknya.
yeh elo yan. Ini serius! Tadi malem kan gue latihan suling, pas udah selesai gue kepikiran buat bersihin sulingnya tuh. Kata sepupu gue pas gue masih SD tuh suling suruh di rendem air anget. Tapikan di rumah gue ga ada air anget, jadi gue rebus tuh suling sambil gue tinggal main laptop. Eh kakak gue manggil gue, katanya udah mendidih airnya. Taunya suling gue meleleh.. gimana dong penilaian musik gue hari ini?”
Suasana hening sejenak… kemudian ryan tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dean itu, dan tentu saja aku sudah tak heran mendengar hal semacam itu.
Jahat! Pada ngetawain gue terus” kata dean dengan raut wajah memelas membuat semakin tertawa.
JJJ
                Sepulang sekolah Ryan menungguku di depan kelas bahasa. Aku keluar kelas sambil tersenyum dan bilang “Seminggu lagi ya..”
                “Seminggu lagi? Mau ngapain?” pura-pura lupa ingatan.
                “ko jahat sih! Masa engga inget? Nangis nih ya nangis?!” dengan ekpresi sedih terpaksa
                “yaudah nangis coba, mau liat. hehehe canda-canda jangan dong sayang, nanti siapa yang bikin aku senyum? Yuk kita pulang!” dengan senyumnya yang ajaib dia menarik tanganku, akupun mengiyakan
                Ryan mengajakku mampir ke kedai bakpau favorite kami. Kedai bakpau itu terletak dipertigaan arah ke rumahku. Aku biasanya memesan 1 bakpau coklat dan 1 bakpau daging, sedangkan Ryan memesan 2 bakpau daging. Bapau Pak Slamet ini memang terkenal enak di daerah sini, jadi tidak heran kalau kami selalu makan bapaunya lebih dari 1. Setelah sejam kami di kedai Pak Slamet, Ryan mengantarku pulang.
                Sesampainya di depan pagar Rumahku Ryan membuka helmnya dan membisikkan kata “I love you, mbel” aku tersenyum aat mendengar ucapan itu. Ryan dengan segera meninggalkan halaman rumahku untuk pulang. Aku langsung pergi ke kamar untuk melempar badanku diatas kasur, yang bisa membuatku melupakan rasa letihku sejenak. Kubuka file galeri foto Hpku, dan ku lihat foto kami saat di puncak. Selalu tertawa jika ingat pertama kali Ryan menyatakan perasaannya itu! Itu lucu sekaligus memalukan. Tak terasa ku memejamkan mata dan terlelap tidur saat matahari masih semangat menyinari.
JJJ
Hpku bergetar ada panggilan dari nomor tak dikenal. Terdengar suara tangisan. Ku coba untuk bertanya
haloini siapa?”
Sherdengan nada terisak-Isak
iya, ini siapa?
“Ini tante sandra, sher.. sekarang Ryan di ICU, kamu bisa kesini nak?"
haaaaaaaaaaah?!!! Rumah Sakit mana tante?” jantungku bertedak, mungkin seribu kali diatas normal
“Rumah Sakit Mitra, sher”
“aku kesana sekarang ya tante!!!”

kenapa harus dia? Kenapa engga orang lain aja?” hatiku terus bergumam, merasa tidak terima kejadian itu menimpa Ryan.
LLL
Hujan turun sangat deras, seakan-akan mereka pun ikut merasakan yang sedang aku rasakan saat ini. Khawatir, sedih, gelisah, takut, semua menjadi satu. Aku bergegas pergi ke Rumah Sakit dimana Ryan dirawat. Ketika aku sampai didepan ICU, melihat tubuh Ryan terbaring lemah dengan beberapa alat medis yang terdapat ditubuhnya semakin membuatku takut kehilanganyan. Kemudian dokterpun keluar dari ICU,
keluarga Adryan?”
saya ibunya dok.. gimana kondisi anak saya?”
“Adryan masih dalam kondisi kritis, hanya doa yang bisa membantu keselamatan anak ibu. Kami sudah berusaha sebisa dan se-maksimal mungkin.”
“Tolong anak saya dok, saya mohon!”
Dokter itu hanya dapat menundukan kepalanya sebagai tanda bahwa ia telah berusaha, tetapi memang kondisi Ryan sedikit kemungkinan untuk selamat. Tak henti tante shandra menangisi kondisi anaknya itu, begitupun aku. Aku memutuskan malam ini menginap di Rumah Sakit.
LLL
                Karena lelah, aku tertidur dikursi depan ICU.
                “sheeeer.. bangun
                “Ryan? Kamu? Kamu gapapa?”
                “aku gapapa kok, aku baik. Maaf ya aku udah buat kamu khawatir”
                “gapapa, asal kamu baik-baik aja aku udah seneng yan”
                “kamu baca ya suratku ini, tapi nanti jangan sekarang. Kamu mau janji sama aku?”
                “janji apa?
                “jangan sedih ya!”
                “sedih kenapa? Aku ga ngerti. Kamu kenapa?”
“aku harus pergi sayang, tapi nanti ketemu lagi ko. suatu saat nanti” Ryan tersenyum dan beranjak bangun dari kursi
“Sher, bangun nak!” suara tante shandra yang membuatku terbangun dari tidurku. Aku terkejut melihat raut wajah mamah dan papahnya Ryan yang memang benar-benar terlihat sangat kacau. “Tante? Tadi aku ketemu ryan?” aku bingung melihat situasi ini, ternyata yang aku lihat tadi itu adalah mimpi. Saat aku berdiri, sesuatu terjatuh dari tanganku. “ini surat yang ryan kasih dalam mimpi! Kenapa ada disini?” aku bertanya dalam hati, sementara aku hiraukan dulu pikiran itu dan kusimpan surat itu dalam tas. “om, tante, ada apa?” nadaku lirih. “Ryan sudah tenang di dunia yang lain, sher” detak jatungku seakan berhenti beberapa detik saat mendengar kabar itu. Aku merasa tidak percaya, karena barusan saja Ryan bicara denganku. Dengan segera aku masuk ke dalam ruang ICU. Tubuh Ryan terbaring kaku, wajahnya pucat, badannya terlihat dingin, matanya sedikit tergerak seakan ia sedang mengingat kejadian-kejadian yang pernah dialaminya. Aku terjatuh, badanku terasa lemas, tidak tahu harus bagaimana menerima kenyataan ini. Air mataku terus berjatuhan. Aku mencoba berdiri mendekati Ryan. Semakin cepat air mataku mengalir, ku peluk tubuh Ryan yang terasa dingin itu. Aku yakin Ryan tak kan pernah mati, hanya raganya yang pergi. Tapi diri Ryan dan hatinya tertinggal disini.
~selesai~

Surat dari Ryan.
Dear sherly,
                Sherly sayang, maafin aku ya udah masukin kamu ke kehidupanku yang singkat ini. Aku juga minta maaf udah buat kamu sedih dan khawatir dengan keadaanku. Aku pergi bukan karena aku ga sayang, tapi ini memang udah jalan hidupku yang berkahir seperti ini. Mungkin kamu belum bisa menerima kepergianku, tapi percaya disini aku selalu merindukanmu dan selalu ada disetiap langkah kakimu kemanapun kamu pergi. Hanya ragaku yang pergi, tetapi cinta dan hati aku tertinggal disini, hatimu. Lain waktu kita pasti dipertemukan lagi.
                                                                                Yours

Adryan


0 comments:

Posting Komentar

 

Kemarin, Hari ini, Besok, dan Nanti © 2012 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor Vector by Webdesignhot